Bagiku seni adalah titik, biarkan sejenak kulukis indahnya dunia ini dengan titik-titik yang bermakna.

October 24, 2016

Kebahagiaan Tak Bersyarat

by , in

Langit cerah diluar ruangan ini mengingatkanku senyum indah yang dahulu senantiasa melayang ke udara. Senyum yang membuat jantungku berdetak sempurna. Sejenak kupejam kedua mata ini, kenangan masa itupun singgah dalam ingatanku. "hahaha" "hahaha" suara tawa pecah seakan dapat kudengar dengan kedua telinga, seolah seperti sedang mendengar nyanyian Surga. Tawa itu seakan mengangkatku hingga semua beban dipundak bergelinciran. Karena dahulu senyum dan tawa hadir dengan cara sederhana untuk menghadirkan kebahagiaan yang tak bersyarat.
Kedua tangan ini merangkul ruang hampa di depanku. Andai ini bukan sebuah ingatan  bolehkah kukatakan, 'aku merindukan kalian, dan kenangan yang kita ukir di ruangan ini. Aku merindukan senyum yang selalu menghangatkan kita dari dinginnya hembus angin malam.' Meski raga yang kusentuh nyatanya hanya  kenangan, namun bayangan senyum itu tidak mengurangi kehangatan hatiku. Semakin dalam membayangkan, jiwaku terasa semakin tentram.
Namun sepertinya masa depan menuntun terlalu jauh sehingga kita berjarak dalam kenangan dan waktu. Langkahku gentar "Biarkan aku berbalik! Biarkan kujemput kembali kenangan yang jauh tertinggal!" pekikku. Aku ingin membawanya bersama kisahku sampai akhirnya aku mulai lupa jalan menuju pulang. Biar yang kuingat dari dunia ini hanya kebahagiaan  sampai tidak ada lagi tetes tangis meresahkan hatiku. 
Jangan biarkan kenangan itu tinggal bersamamu, biarkan aku bawa sedikit untuk kuceritakan pada mereka bahwa kehidupan dunia tidak senestapa bara api yang membakar mereka. Dunia yang mereka takuti tidak sekejam yang kualami.
Ketika kedua mataku terbuka kembali, sinar mentari menyambutku hangat dengan senyum cerianya seperti orang tua yang menyambut kelahiran seorang anak. Aku dapat merasakan cahayanya mengusap kedua pipiku. "Aku adalah kenangan esok yang akan menghangatkanmu sebagaimana  senyum sahabat yang menjadi kenangan terindahmu. Hiduplah menjadi manusia yang berbahagia dan penuh cinta hari ini esok dan selamanya"








August 24, 2016

Drama Yang Tak Berkesudahan

by , in
source : unsplash.com

Seperti tengah menonton serial drama, kedua mataku terus terfokus menyaksikan beragam orang diluar sana begitu tekun menjalani perannya dalam kehidupan ini. Menjelang lampu merah kulihat tiga pria berbaris begitu rapi tanpa seorangpun yang berusaha mengomandoi. Sementara tangan kanan berayun dengan semangat tangan kirinya memangkul pacul yang diujungnya digantungkan sebuah tas berbahan dasar goni. Senyum sumbringah dibibir merekaa mengalahkan sinar mentari pagi itu. Begitu semangatnya para pria itu meskipun ia tahu setelah langkah yang panjang ini sang pacul di pundaknya akan menguras tenaga. Namun ingatan akan anak yang tumbuh sehat dan istri yang selalu tersenyum harap menanti sang suami pulang dari pekerjaannya lalu kemudian dengan senang hati menikmati masakannya para bapak itu melupakan rasa lelah itu. Tidak beberapa lama kemudian mobil yang kutumpangi berlari meninggalkan potret dihadapanku.Namun hanya sepersekian meter karena macet berhasil memerangkap mobil ini. Sebelum rasa bosan meledakkan kepalaku, aku kembali mengedarkan pandangan dan menyaksikan kembali sekelompok orang yang sedang duduk berjejer di trotoar jalan. Sepertinya mereka baru saja melakukan aktifitas yang cukup berat. Sehingga bajunya setengah kuyup oleh genangan keringat dari puncak ubun-ubunnya. Nafasnya naik turun dan beberapa bagian tubuhnya berlumuran noda. Didepan mereka bertumpuk beberapa karung berisi tanah. Sudah tidak diragukan lagi, merekalah tangan terampil yang selama ini merawat kebersihan jalan dan kesuburan tanaman disepanjang jalan ini. Betapa berjasanya pekerjaan mereka bagi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat pada umumnya. Namun usaha mereka tidak diikuti dengan  partisipasi masyarakat lain yang hanya tahu bersih dan mendapatkan kesejukan. Terutama mereka yang berkoar pedui kesehatan namun dibalik layar menjadi pemeran utama illegal loging. Mengaku peduli kebersihan namun dilain waktu menjadi pelaku tunggal pembuangan sampah sembarangan.
Dari pengamatan itu aku semakin terhanyut dan tiba-tiba memikirkan drama komedi yang sedang dipertontonkan pemerintah di senayan. Begitu mudahnya mereka berebut kursi selayaknya semut mendapatkan sebutir gula sementara rakyatnya masih saja didera penderitaan karena sistem berkarakter konyol di negeri ini. Disaat para bocah merengek kelaparan pemerintahnya nyenyak karena dongeng panjang pembahasan RUU yang hingga sekarang masih berupa wacana dan berstatus perencanaan yang tertunda. Disaat para para buruh berkuras air mata bermandikan keringat dan dijadikan mesin pencetak uang, para pemerintah berebut milyaran rupiah seperti tikus menemukan makanan.
Mengemas pemikiran dan realita yang kulihat akhirnya muncul sebuah kesimpulan  bahwa pekerja rendahan seperti mereka yang hidup bernafaskan debu dan asap jalanan apakah ada artinya dimata pemerintah? Apakah pemerintah pernah memikirkan orang seperti mereka sehingga kemudian mengurungkan niat untuk memperkaya diri sendiri dan merealisasikan program penyejahteraan masyarakat. Akankah mereka yang hidup dari ujung pacul itu dijadikan salah satu pertimbangan di Senayan sana ketika menyepakati pebangunan infrastruktur yang sejatinya hanya akan memanjakan bangsa elite negara ini sehingga bapak-bapak ini kehilangan "kantor" mereka. Ya beginilah drama di negeriku. Tanpa kusadari kebijakan yang selalu kami dengar dari media massa sejenis siksaan seorang ibu tiri terhadap kami anaknya "rakyat jelata" yang lemah terhadap hukum.
January 17, 2016

Hanya di Kota Seribu Angkot!

by , in
source: jabar.pojoksatu.id
Selain dideklarasikan sebagai kota hujan bahkan kota beriman, sebagian pihak sepakat untuk menjuluki kota Bogor dengan julukan "Kota seribu angkot". Jika jam 6 kalian masih belum bisa pulang, ga usah khawatir dan harus tarik rambut, kerudung atau kuping penumpang lain buat rebutan. Kalian bayangin aja satu jalur angkot udah seperti jejelan tusuk sate. Tidak seperti di stasiun Bukittinggi, jam 6 kalian sudah harus siap-siap lolos dari desakan ibu-ibu pedagang konveksi di pasa Ateh, bapak-bapak  pasca ngabuburit dari Pasa Banto, pelajar yang bagian ketek seragamnya menguning karena lelehan deodoran di terjang banjir keringat, atau cabe-cabean (ada ya???) Bukittinggi yang habis "mancing" calon cowok idaman di pelataran jam gadang. Masuk angkot KUD (nama angkot) sudah seperti rebutan masuk pintu surga. Tidak ada yang mau mengalah, jikapun harus berdiri ya sudah yang penting sampai ke rumah sebelum Sungai Pua berubah jadi kota mati. Hanya ada cahaya lampu dan nyanyian jangkrik di malam menggigit. Dan selebihnya adalah bunyi dengkuran para penduduk.
Karena julukannya Kota Seribu Angkot, kamu akan temukan banyak angkot berwarna hijau (kota) dan biru (kabupaten) berseliweran kaya terjangan tsunami. Warna yang homogen ini berpotensi membuat penumpang hobi kesasar seperti saya harus menikmati rute berbeda setiap harinya dengan tujuan yang sama. Bahkan hanya untuk ke Botani, saya harus naik 08A dari Warung Jambu via BTM, terus ke pasar bogor dan berhenti di Tugu kujang. Padahal naik 09 saja, saya bisa lurus lewat jalan Padjajaran. Kejadian ini pada awal-awal di Bogor sudah seperti minum obat, harus rutin dan teratur. Selain kesalahan karena kekhilafan pribadi, ini juga difaktori oleh "kurangnya" kejujuran sopir angkot. Saya tanya 'Cibinong bukan?' Beberapa kali. Sang supir pun mengangguk. taunya pas kelewat Pagelaran dia nyalahin saya. Masih mending ada yang mau nganterin coba kalo mereka cuma ngomel dan nurunin di jalan, berapa rupiah lagi harus saya keluarkan untuk sampai dirumah.
Disamping itu, pengalaman yang sering saya alami adalah masalah kembalian. Saya heran kenapa tarif dasar angkot 3.500 di kota ini sering tidak berlaku sesuai dengan aslinya. Terutama jika kalian menggunakan uang 5.000 maka harga akan langsung fluktuatif. Bisa saja kalian dapat kembalian 1000 atau malah tidak sama sekali. Bahkan terakhir kali saya naik angkot, sang supir menyerahkan kembalian sebesar 700. Jujur saja saya agak kesal dengan ulah nakal beberapa supir kota seribu angkot ini. Entah mungkin saya boleh menyebutnya kota seribu koruptor mikro. Karena saya takut dituduh melakukan pencemaran nama baik, tiba-tiba nanti malam di grebek densus 88 dan besok pagi diumumkan sebagai teroris hanya karena mengeluh dan merusak citra kota beriman, baiklah saya tidak akan mengatakan kekesalan saya hanya dengan kalimat sederhana penghantar ke penjara. Lebih tepatnya saya hanya ingin mengeluh sedikit saja atas kejadian apes setiap naik angkot di kota Hujan.
Kasus ini sering saya ceritakan kepada saudara saya. Jawabannya seolah mendukung dan tidak berdaya dengan ulah nakal sang supir angkot. 'Besok-besok pake uang pas aja.' Kejujuran tidak mengenal nilai. Seperapaun rupiah yang diserahkan, seharusnya sang supir hanya berhak mengambil sebagaimana seharusnya. Kecuali jika memang tidak ada kembalian, ia bisa berterus terang. Tapi saya rasa mustahil sekali setiap hari mereka tidak punya kembalian sementara didekat kemudi angkotnya bersebaran uang receh. 
Saya terkadang sedih dengan mereka yang mencoba untuk jujur dan mengembalikan uang sesuai dengan hak saya. Mereka masih punya hati nurani dan kesadaran tinggi untuk membedakan haknya dan orang lain. Disaat supir lain bersikap seperti singa kelaparan minta makan terlebih lagi jika ongkos yang diserahkan kurang 500. Ironis sekali. Namun demikian saya masih bisa sedikit bernafas, meski banyak yang tidak jujur masalah kembalian, masih ada yang berusaha untuk menerapkan konsep kejujuran. Meski jumlahnya sedikit, setidaknya di kota beriman ini ternyata masih ada yang teguh dengan keimanannya.
December 24, 2015

Berkarakter dengan Bahasa

by , in
Bahasa yang sopan dan santun, bukan hanya membuat kita matang dalam berucap serta cerdas dalam menyampaikan, namun "kekuatan magic"nya mampu mempengaruhi standar moral, mendengungkan revolusi serta mengubah wajah dunia. 
Bayangkan saja, hanya dengan kata "maaf" semua orang belajar ikhlas dan berlapang dada, dengan kata "tolong" penduduk  bumi ini belajar untuk merendahkan egonya, membuka tangan dan menggerakkan langkah untuk meyumbangkan sedikit waktu dan tenaganya demi kepentingan orang lain. Dan hanya dengan kata "terima kasih" manusia belajar untuk saling menghargai dan membangun persaudaraan mereka.
Karakter merupakan bahasa sederhana bagi sekumpulan bangsa yang bermartabat. jangan biarkan mereka lumpuh terinjak arus globalisasi, berlari meninggalkan mereka dengan  debu dan jaring laba-laba di perpustakaan sekolah atau di gudang-gudang toko buku. 
Maka berkarakterlah dengan bahasa.
Jika diam adalah emas, akan lebih permata jika diam itu digantikan dengan bahasa yang dikarakterkan atau karakter yang dibahasakan. Sebagaimana pada tahun 1928 lalu, 3 potong kalimat yang diikrarkan melalui sumpah pemuda mampu mengubah wajah Indonesia. Pemuda ketika itu rela menukar emas dengan permata demi mengebombardir ketakutan dan kegentaran para pemuda demi sebuah kata "Merdeka". 
Maka pemuda dan bangsa yang bermartabat, pertahankan moralitasmu dengan berbahasa yang baik dan sopan.
December 23, 2015

Harapan Seorang Anak

by , in

Curahan kasih sayang lebih berharga  daripada limpahan materi. Meski terkadang sebagian orang beranggapan bahwa anaknya akan berbahagia ketika mereka mampu mencukupkan kebutuhan sekaligus keinginan mereka. Sehingga akhirnya mereka tenggelam dengan pekerjaannya, memiliki waktu yang sempit untuk sekedar mengusap kepala sang buah hati dan mendengarkan keluh-kesah mereka.

Kemakmuran finansial memang menjadi salah satu faktor kebahagian namun bersifat temporal. Kebahagiaan tersebut akan musnah ketika materi tidak lebih berharga daripada kasih sayang. Semua anak menyukai kasih sayang orang tua, baik laki-laki maupun perempuan. Namun terkadang ada yang dengan mudah menagihnya dan sebagian sulit mengungkapkannya. Bukan karena mereka gengsi, namun karena mengerti betapa sibuk dan lelahnya orang tua dengan rutinitasnya diluar sana dan pulang pun langsung merebahkan tubuh.

Ada beberapa orang tua yang sering mengeluh bahwa anak mereka tidak pernah mau mengikuti kemauan mereka, lebih senang main dibandingkan mengejar apa yang seharusnya menjadi masa depan dan harapannya. Namun mereka terkadang lupa becermin. Disaat tuntutan demi tuntutan tersebut melesat bagai anak panah kepada sang anak, mereka lupa menyisakam satu untuk menancapkan itu dihulu hatinya. Disaat anak di tuntut bahkan diintimidasi, mereka lebih sibuk mengumpulkan pundi-pundi "kebahagiaan" materinya. 

Mewakili status sebagai seorang anak, saya ingin mencerminkan bagaimana keinginan tulus anak terhadap orang tua. Uang, fasilitas dan kekayaan, benar namun semua itu setelah kasih sayang. Komunikasi, begitulah harapan sederhana seorang anak terhadap orang tuanya. Mereka hanya ingin kedua orang tuanya duduk barang sejenak ditengah kesibukan mencari rezeki demi mendengarkan apa dan bagaimana perasaan mereka. Mungkin diluar sana ada namanya teman, sahabat, kekasih bahkan pengkhianat, namun mereka semua tidak selalu ada disaat bumi yang dipijak hentak runtuh, langit yang dijunjung hendak meledak. Karena mereka juga punya masalah dan berharap ada yang sudi memecahkan. Sedangkan orang tua, tidak terhitung berapa kesabaran, ketulusan mereka selama ini. Meski teman silih berganti datang dan pergi, hanya orang tua yang tidak pernah melepaskan rangkulan hangatnya, mencurahkan kasih sayang bahkan mencintai tanpa berfikir akan mendapat cinta yang sama. 
Tapi bagaimana sikap orang tua menyaksikan anaknya lebih sering berkurung diri di kamar, atau lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Bahkan mereka sudah tidak pernah lagi memakan garam dapur. Sebagian mungkin akan bilang, anakku pemalas, anakku suka kelayapan, anakku boros. Orang tua, ketika mereka kehilangan kenyamanan dan kehabisan kasih sayang, maka terimalah pemberontakan mereka. Mereka bukanlah pemalas, melainkan sedang bergulat seorang diri melawan masalahnya, mereka bukan kelayapan melainkan mencari kebahagiaan walau sesaat, mereka tidak boros melainkan sedang berusaha menghibur diri.
Andai 24 jam dalam sehari, 5 menitnya saja biarkan matamu melihat jauh sanubari mereka, pinjamkan telingamu untuk mendengarkan kebenaran dan hadirkan ragamu untuk menghibur mereka dan katakan pada mereka, "nak Ibu/Ayah disini, ceritakanlah apa yang saat ini kamu pikirkan/rasakan. Semoga kita bisa mencari jalan keluarnya bersama-sama". Peluk tubuh ringkihnya, usap kepala mereka, yakinkan bahwa tidak semua orang mengucilkanmu, karena kami akan selalu disisimu baik disaat susah dan sedihmu.
Ayah, ibuku meski materi masih jauh dalam rangkulan kami. Tapi mereka selalu menyediakan waktu untuk makan malam bersama. Kami biarkan tv menyala namun kami sibuk bercengkrama dan membahas kejadian-kejadian yang telah terjadi sehari ini. Jika saat ini aku jauh dari rumah, dalam sehari ibu berkali-kali menghubungiku, baik via sms maupun telpon. Bahkan pulsa beliau sering habis demi mendengar keluh kesahku. Wajar kenapa aku lebih cinta rumah dari pada dunia luar. Aku lebih ingin didekat ibu dan ayah, meskipun harus mendengar omelan bahkan amukan mereka
Karena aku tahu mereka hanya sedang mengekspresikan cinta dan kasih sayang berkeadila. Terhadapku dan adik-adik.
December 20, 2015

Ikhlas Menerima Maupun Memberi

by , in
source : unsplash.com

Setelah melakukan semua hal, kita tidak pernah bisa memaksa orang lain agar menyukai kita. Karena rasa suka atau tidak tersebut menyangkut perasaan dan penilaian seseorang, bukan kehendak kita. 
Tugas kita hanya menyemai benih kebaikan, meskipun hama sepanjang waktu memporak-porandakan kebaikan tersebut, bila  Tuhan menakdirkan waktunya memanen maka makhluk mana yang mampu menistakannya. 
Merunduk, sebagaimana padi terus mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dan tidak pernah sombong. Ilalang belukar dipadang rumput, mendidik kita meski dianggap semak, diracun dan dipangkas ia tetap tumbuh kembali menghijau tanpa membekaskan kemuning kering bekas tuba yang ditaburkan.
Berterima kasih, demikianlah yang dapat kita lakukan untuk menghargai mereka yang tidak menyukai kita. Karena merekalah yang memotivasi kita untuk selalu menghitung kesalahan dan memperbaiki setiap kesalahan.
Meski tangis berganti darah, merintih mengerangkan luka menganga, semua tidak akan merubah kecuali kamu memutuskan untuk melanjutkan kehidupan. Tidak akan ada bedanya jika kamu berbuat kebaikan ataupun keburukan dimata mereka yang membencimu, kecuali kebencian yang sama dari mereka yang membencimu.
Ikhlas, seperti itulah Rasulullah mengajarkan kita untuk menjalani hidup ini. Menerima dengan lapang dada kebencian orang lain namun tidak pernah berhenti berbuat kebaikan. Ikhlas memberi bahkan ikhlas menerima. 
Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan mengarahkan jari telunjuk, untuk kalian yang saat ini menyimpan ranjau dihati, biar kutunaikan tugas kemanusiaanku. Jika setiap sikapku hanya menyulut api amarah dan dendam, walaupun setitik mohon lapangkan beban dosaku dengan kata "maaf". Barangkali aku tidak bisa mengubah rasa sesal, kesal dan mualmu terhadapku, namun setidaknya kalian dapat membantuku untuk mengurangi beban timbangan rusuk kiriku. Terima kasih jika memang cemoohan hinaan bahkan sikap tidak menyenangkan yang mungkin sengaja atau tidak sengaja kusadari, karena selama ini semua itu cambukan dab pacuanku untuk menghibahkan seluruh waktuku untuk sebuah "kesuksesan". Meski kalian membenciku, but I love you cause Allah. :)
November 10, 2014

Maaf atas Kesalahan yang Tidak Kulakukan

by , in

source: unsplash.com

Laporan magang adalah dosa besar yang tidak terampunkan dalam hidupku. Awalnya aku begitu menyukainya karena inilah alasan mengapa aku menghabiskan belasan tahun umurku dengan pulpen dan buku, karena aku ingin menuliskan apa yang ingin kutulis. Namun kemudian tiba-tiba kebencian ini memuncak setelah tragedi itu berlalu begitu saja.
Sebelum kejadian itu, aku berselisih paham mengenai prinsip menghargai. Sebagaimana yang diajarkan ibu kepadaku, “Jangan pernah mengungkapkan ketidaksenangan kita pada benda yang sedang dijual orang”. Sebab hal itu akan melukai perasaan yang menjual. Dan itu pernah kualami sendiri ketika orang lain mencaci barang daganganku dan pergi tanpa membawa dosa. Meskipun akhirnya aku ditakhlukan kesabaran, tetap saja ejekan itu menjadi pelajaran besar dalam dunia perniagaan.
Sore itu ketika sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, salah satu rekanku berniat untuk membeli tas. Kemudian ia memutuskan untuk mendekati tempat penjualan tas. Ketika sedang memilih salah satu dari sekian banyak tas, rekan lainnya nyeletuk dan berkata, “ jangan yang itu, soalnya terlihat murahan.” Dengan niat mengingatkan aku memberitahukan agar memperkecil suaranya dan untuk tidak lagi menyatakan pendapat demikian didepan orang yang berjualan. Orang yang kunasehati tidak menghiraukan dengan mengungkapkan alasan.
“ya kalau begitu terserah kamulah”, ucapku mengakhiri perdebatan itu karena aku yakin pada saat itu ia merasa benar dan tidak perlu nasehat dariku. Namun kemudian ia tiba-tiba mendiamiku dan tak sudi lagi menegurku. Dosaku. Aku bingung sebenarnya aku yang kesal atau dia yang membenciku
Untuk alasan yang sepele itu  akhirnya untuk beberapa hari kemudian kami saling diam-diaman sampai kejadian fenomenal itu terjadi.
Sore itu dalam keadaan setengah mengantuk, kucari handphoneku untuk sekedar mengetahui sekarang sudah jam berapa. Perhatianku langsung teralih apda notification Whatsapp. Ya Tuhan, itu hampir ratusan. Dan percakapan sebanyak itu terjadi di grup. Alhasil setelah kubaca dengan cermat, ternyata grup kelasku sedang membahas laporan magang. dari sekian percakapan satu penyataan mencuri perhatianku. Salah satu temanku mengatakan bahwa ia melihat pihak akademik mencoret laporan magang yang sudah di binding. Karena penasaran, akhirnya aku ikut berdiskusi dan menyayangkan kebijakan tersebut. Sampai muncul argumen, “Akdemik pakai ilmu kodok, inget bikin aturan begini dan begitu langsung ngomong”. Dan pada umumnya peraturan yang diberlakukan seolah-olah seperti dadakan. Sehingga akhirnya banyak mahasiswa yang tidak mengetahui hal tersebut. Contohnya pengumuman pengumpulan laporan magang di upload di FB yang sudah mulai di tinggalkan mahasiswa, Pnaduan akademik yang tidak pernah di update sejak dari tahun 2008 (tapi di judulnya panduan akademik 2013 update). Mungkin karena tidak ingin hal serupa terjadi pada rekan-rekan lainnya, akhirnya ada inisiatifku untuk memberitahukan hal ini di path. karena rata-rata teman-teman aktif di media sosial ini.
Dan tidak lupa juga aku mengingatkan Putri, salah satu rekanku yang berada dalam satu bangunan kosan untuk memeriksa lebih detail laporannya.
“Uni nggak tau kalo laporan yang di coret itu punya X dan Z?”
“Ya Allah, benarkah?” Dan orang yang diceritakan di grup kelasku adalah temanku sendiri. Rasa marahku semakin memuncak. Kok bisa begini? Kasihan mereka. Dan terlebih lagi sikap akademik yang begitu mudah mencorat-coret laporan orang. Padahal kita disuruh menjaga lingkungan tapi taunya mereka membiarkan mahasiswa direvisi berkali-kali dengan membuang-buang kertas corat-coret. Dan kenapa itu bisa terjadi? ilmu kodok.
Setelah beberapa jam kemudian salah satu dari temanku mengirimkan pesan di bbm. meskipun awalnya mengatakan, “dengan tidak mengurangi rasa hormat” namun kata demi kata yang terucap menyayat hatiku. “tolong jangan bahas masalah ini di sosial media”. “padahal kami menutupi, tapi kamu malah menyebarkannya”. “asal kamu tahu laporan kami tidak dicoret!” Ya Allah tidak adakah inisiatif untuk bertanya darimana aku mendapatkan kabar ini? Atau mempertanyakan apakah kamu tahu laporan siapa yang dicoret akademik? Seandainya ia mendengar jawabannya tentu kemarahan itu tidak berhak terhempas kepadaku sehingga setiap kata yang kudengar begitu menyesakkan dadaku. Begitu hina dan rendahnya nilaiku sebagai teman. Begitukah cara seorang teman menilaiku. Pada saat itu aku tidak mengerti harus berkata apa walaupun aku sudah mencoba untuk menjelaskannya.
Sembari mengingat kembali kata-kata itu, pikiranku langsung flash back. Pantas saja teman yang sudah beberapa hari ini mendiamiku begitu emosional ketika ditanya masalah laporan magang. intinya dia berkata nggak tau itu orang ember banget nyebarin kesemua orang. Jadi arah perkataan itu sebenarnya kepadaku? Konsentrasiku pecah dan aku memutuskan untuk menyudahi pekerjaanku lalu kemudian pindah kekamarku.
Dan keesokan harinya aku mendapatkan bbm dari orang yang sama dengan mengatakan jika orang yang pertama kali menyebarkan berita itu teman yang lain, bukan aku. Meskipun hatiku lega, namun hati yang terluka itu belum kunjung sembuh. kata-kata yang mencabik hatiku terlanjur kuingat. Ya tentu saja aku akan memaafkan temanku, tapi akan ada yang berbeda semenjak hari itu. Saling diam dan saling tidak peduli dengan teman yang satu lagi.
Sebelum aku tidak sempat mengucapkan kata maaf, aku meminta maaf yang sebesarnya kepada beliau. Maafkan atas kelancangan prinsip yang ditanamkan oleh orang tuaku. Tidak sepantasnya aku menasehatinya. Tidak ada haknya aku mengatur kehidupan orang. Ya aku bersalah dan aku pantas dihukum, maka maafkan aku dan aku telah sakit dengan hukuman yang kuterima semenjak kata “diam” itu.
Barangkali setelah ini kalian makin membenciku karena bukan hanya di path, aku menceritakan kalian di blog pribadiku. :) Kesiapa lagi aku akan meyampaikan maafku sama kalian selain Allah SWT karena semua teman-teman diluar sana sibuk memikirkan dirinya masing-masing dan melupakanku. Dan barangkali mereka akan mengingatku ketika tuntutan skripsi sudah didepan mata atau karena tugas yang begitu memusingkan. Kuharap kesalahan terbesarku ini diampunkan oleh Allah SWT.
September 19, 2014

Aku Akan Kembali

by , in
source: unsplash.com

sebelum jarum jam menunjukkan pukul 10.00 kusandarkan tubuh di dinding kamar sembari mengingat kembali kenangan tiga tahun yang silam.. betapa gigihnya semangat ibu dan dukungan ayah untuk menetapkan hatiku menempuh pebdidikan di jenjang perguruan tinggi. sekalipun kalimat negatif bertumpahan seperti rintikan hujan, mereka tidak pernah peduli karena mereka yakin masa depanku berawal dari gerbang Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia. Dengan bantuan materil dan non materil ibu dikokohkan oleh mereka yang dulunya sama susah merintis karir yang bermula dari  0.
setelah tiga tahun berjuang dan berkorban tak terasa sekarang aku sudah memasuki semester akhir dan insyaAllah november 2015 aku akan mengenakan toga wisuda dengan titel S.E.I. seperti yang dimimpikan oleh kedua orang tua dan adik-adik.
hari ini aku akan melanjutkan kembali semester yang tersisa demi merampungkan kewajiban 8 semesterku. Meskipun rasa haru dan sedih berkecamuk didada, ada secercah harapan yang menegarkanku. Merantau jauh ke tanah jawa menjadi pilihanku karena harapan dan takdirku berjodoh dalam Kuasa-Nya. Ia melapangkan setiap urusan dan jalan yang kutempuh meskipun didalam doa aku pernah meminta jika bukan takdirku ke sana maka persulitlah aku dan permudah aku bagi takdir yang ia kehendaki. siapa yang akan menyangka jika aku yang bukan seorang bujang, melainkan gadih minang tertakdir menjadi seorang perantau.
Tidak terasa, benar-benar sulit dianalisa, Allah selalu memberi kejutan sehingga aku mulai menikmati takdirku.
Bersama restu ayah dan ibu serta kedua adikku, dan tidak terkecuali orang-orang yang menyayangiku, kusandang tas dan kutarik koperku dengan senyum bermakna. Aku akan kembali kepada kalian dengan gelar S.E.I ku. Meski hujan lebat mengiringi keberangkatanku aku yakin saat ini mereka sedang menyelipkan doa disetiap tetesnya. Ia berharap sepertu harapan yang senantiasa ku ucapkan kepada-Nya, kesuksesan, kesehatan dan Ridho ilahi.
Wahai hati usah kau resah.. karena doa ibu dan ayah akan senantiasa hadir disetiap langkah. Wahai air mata simpanlah ia untuk prestasi yang engkau raih. Wahai minang kabau aku akan kembali memakmurkan negeriku ini :)
September 13, 2014

Syukuri Mata yang Melihat

by , in

"dalam diam kupandangi alam disekitarku. mengapa semua mengabur dan kemudian menghitam. meski pekat memerangkap langkah, kucoba untuk terus mencari secercah cahaya. cahaya yang akan menuntunku keluar dari penglihatan hitam legam ini. Tersungkur dan terbentur akupun hampir berputus asa. Masih dalam diam kubuka kedua mata dan dunia kembali menunjukkan warnanya. Mentari tersenyum merekah, angin menyapa lembut dipipi, dedaunan yang berguguran menghampiri dan berpusar disekitar langkahku seolah menawarkan sebuah persahabatan.
Masih dalam diam kumaknai detik demi detik perpidahan arah jarum jam. Bukanlah dunia yang kelam melainkan mataku yang terpejam."
Bukankah sangat sulit ketika mata yang selalu membantu kita untuk membedakan warna, membaca tulisan dan menjadi petunjuk arah bagi pergerakan tubuh ini, dihilangkan kemampuannya sehingga kita hanya bisa melihat hitam dan putih berasap. Jelas saja kita tidak akan mampu.
Terlahir rabun membuat wanita ini tidak langsung menyerah menghadapi takdirnya. Ia berusaha beraktifitas seperti orang lain meskipun pemandangan disekitarnya seperti hasil kertas foto kopi. Ia pernah mencicipi ilmu pengetahuan di Sekolah Dasar. Namun hanya mampu sampai kelas 2. Karena dengan penglihatan demikian cukup menghalaginya untuk memahami apa yang sedang dituliskan sang guru. Walaupun hanya sampai kelas dua SD wanita yang bernama Saiyar ini tumbuh menjadi seorang yang cakap dalam berniaga. Ia bisa membaca maupun menulis namun sayang tidak bisa mengetahui  berapa jumlah jajanan yang seharusnya dibayar oleh "langganan ciliknya" itu. Dengan kondisi demikian ia sering dicurangi anak sekolah. Namun entah mengapa ia tidak pernah kapok berjualan buah dan manisan di sekolahan. Baginya anak sekolah itu sudah seperti cucunya sendiri. Jika mereka tidak jujur itu urusan mereka, yang jelas ia tidak pernah dendam jika tahu ada yang mencuranginya.
Seiring berjalannya waktu dan pasca kecelakaan yang menyebabkan beberapa saraf matanya putus pada tahun 1999-an, Saiyar kehilangan penglihatannya 5 tahun menjelang menutup mata. Karena sudah tak bisa berjualan ia hanya mengisi waktunya dengan mendengarkan radio dan tidak pernah absen menyimak siaran Jam Gadang. Jika ingin beranjak dari tempat tidur, wanita yang kupanggil emak ini mempercayakan sebuah tongkat untuk menuntun langkahnya. Meski demikian terkadang tongkat itu kurang akurat. Hingga emak pun kejeduk keras di ujung pintu atau kehilangan arah sampai ia meminta seseorang menunjukkan jalan menuju kamarnya.
Suatu hari ia pernah memintaku untuk mendekatkan wajahku. Lalu perlahan ia meraba wajahku. "Cucu emak kini alah gadang (besar). Tambah rancak (cantik)." Ketika itu dadaku sesak menahan tangis. Karena penasaran akupun bertanya tentang selain gelap apa lagi yang bisa ia lihat. 'Kalau silau melihat warna merah dan kadang-kadang putih berasap'. Kuraba mataku dan akupun bergumam, "mata yang bisa melihat ini keturunan seorang yang rabun. Alhamdulillah Allah telah menyempurnakan penglihatanku. Maka aku harus menggunakannya dengan bijak."
Sepantasnya kita menyukuri nikmat Allah yang Ia titipkan melalui penglihatan ini. Selama Ia mengizinkan kita untuk menyaksikan langit dengan 'butiran berlian"bintang, melantunkan kalam samawi yang termaktub di dalam Al-Quran maka syukurilah dan pergukanan dengan baik.
Saiyar, barangkali aku sudah tidak bisa melihatnya kecuali mengingat wajahnya. Tapi apakah sekarang ia sudah bisa melihatku dari sana dan tersenyum kepadaku sembari berkata, "ternyata cucuku sudah besar. Dan sekarang sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa". Wallahu 'alam. Emak semoga Allah menerangi kuburmu. Banyak hal yang kau ajarkan kepadaku, bagaimana bersabar dan bersyukur atas ketetapan Allah. Allahumagfirlaha warhamha.. :)
January 17, 2014

Menikmati Hidup, Ya Itulah Kuncinya

by , in
source: unsplash.com

Karena keduanya sudah mulai dijalari ketakutan, kurasa kedepan semuanya harus lebih baik dan apa yang kuinginkan harus lebih sempurna. Sebelum tangan dan raga hanya bisa memerhatikan seseorang berbuat hal yang serupa dan sebelum aku tidak bisa mengatakan bahwa ia telah menjiplak kreatifitas yang masih berayun diotakku. 
Baru saja kubaca diberita bahwa seorang remaja yang usianya hampir sebaya denganku  mengembalikan nyawa dan raga yang dipinjamkan sang Ilahi hanya karena ia gagal mengukir prestasi sehingga membuat salah seorang anggota keluarga malu dan akhirnya terpaksa meniadakannya dimuka bumi ini. Otakku langsung berfikir, mengapa keluarga begitu tega dan mengandalkan egonya ketimbang memberi kesempatan seluasnya kepada sang korban untuk menemukan waktu yang tepat. Dalam lamunan yang begitu mendalam kuputuskan dalam hati bahwa ia belum berprestasi karena mungkin selama ini orang terdekatnya terlalu berambisi menginstruksi keinginan mereka ketimbang memberikan kelonggaran kepada sang korban untuk berprestasi dengan cara sendiri. Sebenarnya bukan ini yang ingin kuungkapkan dalam episode pembatinanku, karena dibalik kisah ini aku bisa mengambil sepetik pelajaran berharga. 
Aku selalu berada dipihak beruntung, karena semua yang kulakukan selalu mendapat dukungan dari keluarga. hanya saja nasibku mungkin sama seperti sang korban, waktu yang tepat belum berpihak kearahku. Namun demikian ibu maupun ayah tidak pernah membelalakkan mata dengan maksud mengancamku bahkan sampai berniat membunuhku. Meskipun mereka sudah sebaik itu, tetap saja lingkaran itu belum berubah menjadi garis yang lurus, sehingga sampai saat ini aku masih terperangkap dalam usaha yang sama dan berpusar-pusar selayaknya gasing.
Ketika kebingungan membentuk "aksi" dan meneriakkan agar aku segera menemukan solusi, akhirnya sebuah cahaya memantul tepat dibola mataku. Meskipun tidak bermaksud menyentuh namun kenyataannya salah satu tulisan teman telah menamparku habis-habisan. mengapa motivasi yang awalnya menggebu-gebu tiba-tiba melemah seperti baterai hp yang tinggal 15%. Motivasi berkurang karena faktor-faktor negatif yang dapat menguras emosi. apa iya begitu, fikirku. dalam tulisan yang cukup apik dan sangat detail ia menjelaskan argumen seorang ilmuan yang sampai sekarang belum bisa kuingat karena waktu itu aku hanya ingin membaca penjelasannya, Kemacetan dan sering membaca atau mendengar hal-hal yang membangkitkan emosi akan membuat kita jengah, sehingga pada waktu itu kita mulai sedikit demi sekit kehilangan motivasi. apa benar begitu? pikirku lagi. 
Tak lama berselang waktu kemudian tulisan-tulisan itu seolah-olah hidup dan membayangi hidupku. Dan akupun secara sportif menganggukkan statement ilmuan yang dikatakan temanku itu. Ya, tepat sekali macet membuatku muak, berita dan kabar buruk terlalu sakit untuk didengarkan ataupun dihadapi. Tubuh tegapku condong kedepan, deru nafasku hanya irama kegusaran, tatapan mataku kosong seakan tak bertuan, hidupku lebih hambar daripada sepotong roti. 
Menikmati hidup, ya itulah kunci yang seharusnya kubawa kemanapun kupergi. Menikmati tak mesti duduk disebuah kursi goyang lalu membiarkan para badut bertingkah lalu mencuri tawamu, melainkan bergerak, berbuat dan bertindak. Apalagi karena batas itu, aku semakin punya alasan untuk menikmati apa yang seharusnya membuatku bangga telah terlahir kedunia ini.
Sebelum desir angin mengabarkan kenyataan bahwa nikmatnya hidup hanya akan terus menjadi angan dan impian manusia bodoh sepertiku, aku harus bangun. Membuka kedua mata yang terlanjur nyaman dengan fatamorgana mimpi, membiarkan badan bergerak mengikuti alur yang tersedia dipanggung kehidupan ini. Bangun dan nikmati hidup, ya sepertinya harus demikian. Karena hanya dengan itu aku bisa membangunkan motivasi dan kehidupan yang seharusnya kujalankan. Meski terasa singkat, setidaknya aku merasa hidup lebih lama dari umur yang kumiliki, setidaknya begitu yang kurasakan diakhirnya.
January 17, 2014

Bukankah Aku Sudah Mengatakannya?

by , in
source : unsplash.com

Bukankah aku sudah mengatakannya, api yang jinak digenggamanmu tersebut suatu saat akan membara dan membakar telapak tangan yang tak bersalah itu. Namun kamu malah membangkang dan membiarkan ego menguasai kendalimu. Meski kuputuskan untuk menyerah dan berbalik badan, sesungguhnya mataku masih menatap kearahmu, hatiku masih berbisik apakah engkau akan baik-baik saja, dan gerakan tubuhku seakan ingin berlari kearahmu lalu menepis bara-bara api yang mulai menjalari ruas demi ruas garis tanganmu. Menyerahlah karena engkau tak akan pernah sanggup, engkau terlalu gentar engkau terlalu ringkih meski dihadapkan sepercik bara api.
Dan kini ketika bara api itu menggelepar dan membuatmu terkapar, apalagi yang mesti kuperbuat kecuali memandangi dari kejauhan. Maaf tanganku terlalu singkat untuk mengulur, kakiku terlalu pendek untuk mendatangi. kulihat saja, kuperhatikan dengan tangis tertahan. Lihatlah betapa menyedihkan dirimu, engkau terpanggang oleh api yang kuciptakan sendiri, engkau hangus oleh permainanmu sendiri.
Sekarang ceritakan saja padaku apa yang engkau rasakan, gambarkan padaku betapa sakitnya ketika api-api itu mengelupaskan tubuhmu, setidaknya bisikkan betapa hancurnya perasaanmu ketika menghadapi kenyataan itu.
Aku tak ingin tertawa, aku hanya akan tersenyum karena kamu yang membuatku harus melakukannya. betapa menyedihkannya sudut bibirmu yang melengkung indah itu, kutahu ada derai tangis yang terbungkam dibalik lengkungan itu. Aku hanya bisa menggelengkan kepala karena kebodohan baru yang engkau lakukan. Kenapa masih menyangkal perih itu, kenapa masih mengelak akan sakit itu?
Ayo mendekatlah akui kebodohanmu, berjanjilah untuk memadamkan api yang hendak engkau sulutkan untuk kebodohan selanjutnya. bukankah aku sudah mengatakan bahwa engkau tidak akan pernah mampu melawannya. bukakah aku sudah mengatakan bahwa engkau tidak akan pernah mampu memadamkan bara yang sudah menyala?