Hai apa kabar? udah lama ya gak mampir ke sini, hampir sembilan tahun ternyata. Aku pikir selama itu aku akan datang dengan gaya kepenulisan yang hebat dengan ujung pemikiran yang tajam, ternyata faktanya aku datang dengan segala kesederhanaan. Ternyata kehidupan dewasa yang membosankan ini belum mampu menjadikanku penulis yang keren. Barangkali dari kalian sudah menjadi seseorang yang kalian impikan semenjak kecil, aku tetaplah aku yang masih terombang-ambing ditengah badai kehidupanku, bahkan namaku hampir saja pudar seperti KTP usang yang saat ini setia menemaniku di dalam dompet lusuhku.
Untuk pertama kalinya lahir kembali dan menyentuh dunia ini dengan ujung jariku, aku hanya ingin membagikan kehidupan sederhana yang kumiliki. Setelah berkecimpung di dunia kerja, tiga tahun cukup untuk membuatku kembali ke kampung halaman. Menghadapi pertanyaan demi pertanyaan racun orang sekitar yang sempat membuatku mengurung diri di sebuah kamar kecil di lereng gunung Marapi. Meringkuk di bawah selimut tebal ku sembari berdoa, "Tuhan jika aku jadi beban untuk keluargaku tidak apa-apa bawa aku kembali dan sudahi beban yang mendera mereka karena statusku yang hanya seorang lulusan sarjana gagal dalam pertempuran sengit dunia kerja dan tak kunjung mendapatkan suami idaman."
Beruntung saat itu Tuhan tidak segera mengutus malaikatnya melainkan memberi tanggung jawab yang lebih besar. Bukan hanya covid yang membuat semua kegiatan manusia lock down namun juga saat itu mengubah struktur organisasi di keluarga kecil kami. Ibuku berubah menjadi anggota aktif, yang berkala aktif bolak balik ke rumah sakit. Sedangkan aku bersama adik-adik mencoba menggantikan orang tuaku menjadi ketua dan wakil. Semenjak saat itu mereka menyebutku tulang punggung keluarga. Pagi ketemu sore kita berdagang di pasar, magrib hingga malam kita memulai kegiatan sebagai pelajar. Untuk kesekian kalinya aku kembali merasakan pengalaman indahnya menjadi mahasiswa akhir. Bolak-balik perpustakaan, membaca berbagai jurnal ilmiah dan akhirnya bisa membimbing adik bungsu kami melengkapi proses wisudanya. Awalnya ia takut dan ragu apakah bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan kami berdua, mengingat ibu yang kondisinya gampang drop karena gula darahnya tidak pernah mau bersahabat sebentar saja. Tentu sebagai ketua baru, kupastikan dan kuyakinkan bahwa tugasnya hanya belajar dan luangkan waktu untuk ikut Berdagang. Alhamdulillah semua badai yang mengobrak-abrik kapal itu pecah dan menyebar karena kapten kapal yang sudah pensiun tersebut mempersiapkan nahkoda barunya dengan cukup baik. Bahkan ketika ketua baru memutuskan untuk resign, pun masih ada 2 nahkoda pengganti yang sudah terlatih lainnya.
Pertengahan 2023, kehidupan dewasaku dimulai. Tadinya aku sempat berfikir untuk tidak perlu mengambil peran sebagai orang dewasa, biarkan saja aku jadi anak ayah dan ibuku selamanya tanpa peduli tutur kata orang lain. Namun Tuhan yang Maha Baik mempertemukan ku dengan jodohku. Orang yang jauh datang dari luar pulau Sumatera, yang artinya setelah menikah aku akan pergi merantau jauh dari orang-orang yang kusayangi.
Setelah beberapa hari menikah, setelah semua orang tertawa haru menangisi perjalanan jombloku ini akhirnya selesai di bulan Juli 2023, tangis pilu pun melepas kepergianku ke perantauan sebagai seorang istri, bukan lagi pelajar yang sekali setahun bisa pulang ke rumah.
Hari itu kedua orang tuaku bersikukuh untuk mengantarku ke terminal. Aku sudah katakan tidak usah diantar, namun mereka ingin memastikan anak sulungnya beneran naik ke bus berwarna biru muda itu bersama suaminya dan berangkat ke kota tujuan. Ingatan terakhir bersama mereka yang masih ku simpan adalah ketika ibu melambaikan tangan sembari menangis terisak sedangkan ayah berusaha dengan sekuatnya tersenyum meski wajahnya memerah menahan air mata. Disisi lain aku yang pura-pura bahagia melambai dengan semangat seolah mau mengatakan aku cuma pergi sebentar tahun depan juga pasti mudik. Namun ketika bis sudah jalan diam-diam aku meneteskan air mata. Meskipun mata terpejam tapi air mata itu terus menetes di ujung mataku. Kusadari saat itu bahwa aku berpisah dengan kedua orang tua serta adikku. Menjalani kehidupan masing-masing.
Dan setelah tiga tahun kemudian bayangan dan janji itu belum kunjung terpenuhi. Bandung lebih tepatnya kabupaten Bandung memelukku terlalu erat hingga ia belum bisa putuskan kapan aku bisa pergi sebentar saja untuk mengingat kembali bagaimana rasanya menyentuh dan menggenggam erat tangan kedua orang tuaku. Aku juga ingin tahu sehebat apa nahkoda penggantiku saat ini.
Sembari menunggu pertemuan itu, aku selalu menjalani peranku sebagai seorang istri. Untuk mengusir sepi, pekarangan yang tandus kaya kolam kering, aku sulap menjadi kebun sayur. Seperti layaknya seorang yang baru belajar baking, semua masih trial error. Aku berhasil panen tomat cheri namun tidak lama setelah itu tanaman tomatku mati karena cuaca di Bandung sedikit lebih panas dan aku terkadang lupa harus menyiram tanamanku dua kali sehari. Cabe yang sudah berbuah di halaman samping tiba-tiba hilang entah dipetik anak-anak atau orang dewasa. Hingga akhirnya kupindahkan ke dalam polibag dan muncul lagi hama bernama semut yang hobi banget memakan bakal buah cabeku.
Diantara semua yang kutanam, sayur kangkung menurutku yang paling gampang tumbuh dan panennya. Sedangkan caisim jika lupa menjaga kelembaban tanah siap-siap melihatnya berubah menjadi keripik.
Bukan hanya berkebun, kegiatan lain yang sedang dan mungkin akan terus menjadi hobi ku adalah berburu diskon di e-commerce. Beberapa kali aku pernah membeli beberapa produk dengan harga yang gak masuk akal. Mulai dari peralatan dapur seperti pan hingga mixer yang harganya ratusan bisa kudapat dengan puluhan ribu saja. Belanja receh mulai dari 0 rupiah juga sering, malah akhir-akhir ini aku gak sampe belanja 50 rb rupiah dalam seminggu. Bukan hanya hobi sih, ini kulakukan juga agar bisa menekan biaya pengeluaran.bisa dibilang sambil menyelam minum air. Bahkan karena keseringan belanja online ini, Alhamdulillah aku punya beberapa langganan entah itu sekedar jastip atau membeli barang hasil berburu diskonku. Mendengar usaha ini cukup menjanjikan tentu saja membuat adik-adik dan orang tuaku tergerak untuk menyuntikkan modal. Mereka sangat berperan besar dalam langkah awal terbentuknya bisnis ini.
Untuk saat ini begitulah kehidupan dewasaku. Dan saat ini aku juga masih ikut waiting list mengambil peran sebagai orang tua, doakan saja ya disegerakan.
Sebelum mengakhiri reunian ini, aku mau nitip pesan tersirat kepada orang-orang di luar sana.Jangan terlalu sering menebar paku di jalanku. Ingat lah bahwa kalian atau orang yang kalian sayangi suatu hari akan menapaki jalan yang sama dan bisa jadi paku itu akan menancap di kakinya. Jangan terus melempar bangkai kepada harimau, suatu hari nanti ketika dia benar-benar lapar bukan hanya bangkai tapi jangan menyesal jika tanganmu ikut menjadi hidangan makan malamnya.
No comments:
Post a Comment